Langsung ke konten utama

Postingan

Kirani dan Bandung

Siang itu, di bawah teriknya matahari yang menghiasi Alun-Alun Kota Bandung aku melihatnya untuk pertama kali. Dia Kirani, gadis cantik yang tak pernah lupa menggantungkan kamera dileher jenjangnya itu berhasil menarik perhatianku. Lalu entah untuk alasan apa tiba-tiba detak jantungku seperti tak bekerja dengan normal ketika aku melihat gadis itu mendekat ke arahku. “Hai,” seolah tanpa ada rasa bersalah sudah membuat detak jantungku berdetak berlebihan dia menyapaku. “Oh, hai,” balasku gugup. “Boleh aku duduk di sini? Spotnya bagus untuk mengambil foto.” Aku hanya mengangguk menanggapinya, entahlah hanya itu rasanya yang bisa kulakukan. Sampai akhirnya dia pun sibuk membidik setiap objek yang ada di depannya dengan kameranya itu dan dia akan tersenyum puas setiap kali melihat hasil bidikannya. Lalu senyumnya itu pun berhasil mengalihkan duniaku. “Kau menyukai fotografi?” Entah keberanian dari mana tiba-tiba saja mulutku bergerak dan bertanya padanya. “Iya, kata...

Sepotong Kenangan di Paris Van Java

Akhirnya kakiku kembali menginjakkan kaki di kota penuh kenangan ini, deruan suara khas kereta api di Stasiun Bandung seolah menyambut kedatanganku. Bicara soal Bandung memang tak akan pernah ada habisnya bagiku. Tiga tahun bukanlah waktu yang sedikit untukku mengenal kota ini dan menciptakan segala bentuk kenangan di dalamnya. Masa-masa kuliah, masa-masa susah ketika uang bulanan habis, masa-masa berpetualang dengan teman-teman untuk keliling Bandung, sampai pada masa bahagia dan sakit hati karena cinta, di Bandung aku banyak mengalami berbagai hal. Berkunjung kembali ke kota ini tentu saja memunculkan kembali rasa rinduku pada setiap kenangan yang terukir. Orang yang paling ingin kutemui saat berkunjung kembali ke kota ini adalah Bapak Rajab, beliau adalah penjaga rumah kontrakanku selama tiga tahun kuliah di Bandung, beliau sangat hapal sekali tentang seluk beluk kota yang terkenal dengan julukan Paris Van Java ini. Aku bahkan sampai hapal bagaimana awal mula kota Bandung dis...

[CERPEN] Coklat Kacang Ellisa

                                                           Coklat Kacang Ellisa                                                                                            Oleh : Shela Gumilang Sejuknya suasana Minggu pagi kembali membungkus udara di kota Bandung, seperti biasa aku memulai Minggu pagi dengan melakukan kegiatan positif lari pagi di lapang Saparua, sudah satu bulan ini aku rutin melakukannya. Ini sungguh baik bagi kesehatan jiwa dan asmaraku, ah ya asmara, mungkin orang bilang aku sedang jatuh cinta. Seorang gadis penjual kue kacang berlapis coklat itu sudah dengan kurang ajar mengg...

[CERPEN] Januari

Januari Oleh: Shela Gumilang Hari itu adalah hari ke empat di bulan Januari saat tanpa sengaja kita dipertemukan kembali di alun-alun kota setelah beberapa bulan tak bersua. Saat itu ku pikir rasaku padamu tak lagi sama seperti dulu, ku kira aku sudah mati rasa padamu, namun nyatanya setelah melihat senyummu itu hari-hariku seperti menjadi rusak dibuatnya. Hanya karena seulas senyum, aku dibuat menggila karenanya. Tapi apa kau tahu bahwa setelahnya juga aku merasa sakit? Sungguh tak ada yang lebih sakit ketika kita harus bertemu kembali namun seolah sebelumnya tak pernah terjadi apa-apa diantara kita. Kau hanya tersenyum kepadaku, lalu aku merasa semakin tak waras karenanya dan kau pergi lagi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Aku melihatmu melangkah pergi saat itu, berjalan melewatiku tanpa sedikit pun ingin menatapku lagi sedangkan lidahku kelu tak mampu hanya sekedar untuk memanggil namamu. Hari berganti hari tapi bayangan tentang senyummu pagi itu seolah tak perna...

Kurang Amal

“Dek, mamah udah transfer ya..” Begitulah kiranya sebuah pesan singkat yang ibuku kirimkan siang itu. Kalimat berisi lima karakter yang sangat menyenangkan bagi semua anak kost tentunya. Saat menerima pesan tersebut hatiku seolah berteriak girang sambil berkata, “ Yes , malam ini makan enak!” Begitulah, jika punya uang banyak aku akan kalap membeli makanan, pantas saja tubuh ini.......ah sudahlah. Sore harinya aku pergi dengan temanku ke salah satu kampus negeri yang terkenal di Bandung untuk mengambil sertifikat workshop yang sudah aku ikuti sebelumnya. Kita pergi naik motor dan sepanjang perjalanan aku dan temanku tidak banyak bicara hingga membuatku merasa bosan. Aku pun segera mengambil handphone yang aku simpan di tas gendongku untuk mengusir rasa bosan. Karena malas memutar tasku ke depan, aku pun meraba-raba bagian kecil dari tas gendongku sambil berusaha mengambil handphone yang disimpan di dalamnya. Handphone berhasil aku ambil, rasa bosan sepanjang perjalanan pun...

Surat untuk Lucas

Jika sekarang semua orang sibuk menuliskan surat perkara teror yang sedang melanda negeriku ini, berbeda denganku, entahlah aku lebih memilih menuliskan surat untukmu. Kamu yang pernah ada, Lucas. Dalam tulisan ini mungkin akan aku ungkapkan semua kata yang ternyata mulutku tak pernah mampu mengutarakannya, sekuat apapun aku berusaha, tetap lidah ini kelu setiap kali memandangmu. Lucas, ini bukan tentang mengapa kamu pergi, tapi mengapa kamu datang kembali setelah menghilang begitu saja? Kamu kembali seperti tanpa ada yang salah, lalu seenaknya menghilang lagi. Permainan macam apalah ini? Jujur, ketika kau pergi tanpa bahasa, ada beribu tanya bersemayam dibenakku. Aku tahu, saat itu memang tak ada apapun antara kita. Tapi bagaimana dengan segala bentuk kabar yang kerap kali kau beri padaku sebelumnya? Bagaimana dengan semua sapaanmu dari ujung handphone -mu? Bagaimana dengan segala pertemuan yang selalu kau tawarkan padaku? Bagaimana dengan semua lagu yang selalu kau per...

[CERPEN] Siluet di Legon Pari

Siluet di Legon Pari Oleh: Shela Gumilang Gemuruh ombak di Pantai Legon Pari memang selalu berhasil membuatku jatuh cinta, pasirnya yang putih nan lembut seakan memaksa untuk menelanjangi kakiku, tumpukkan karang yang tetap kokoh walau kerap kali diterjang ombak besar selalu menarik perhatianku. Andai aku bisa menjadi karang di Legon Pari, andai aku bisa menjadi sekokoh mereka mungkin kerapuhan hati ini tak akan menjadi masalah besar untukku. Ah, tapi rasanya aku terlalu munafik jika harus mengatakkan bahwa aku masih baik-baik saja sekarang. Sama seperti dulu, pantai yang berada di balik bukit di ujung Banten ini masih tetap sepi dan tenang, tapi sepi yang kurasakan kali ini berbeda. Kini aku hanya berjalan ditemani gemuruh ombak beserta buih-buih air laut yang sesekali terciprat ke arahku, bersama semilir angin khas pantai yang menemaniku menyusuri tepian Pantai Legon Pari. Gradasi kemerahan di atas awan Legon Pari pun kini seolah mempertegas keindahan pantai yang kia...