Langsung ke konten utama

Postingan

Masa Jaya Putih Biru

Source: Kaskus Kalau sebelumnya sudah bercerita kisah jaman putih-merah yang penuh dengan segala keceriaannya kini giliran bercerita masa-masa kejayaan putih-biru alias SMP.  Mengingat masa SMP memang membangkitkan kembali kenangan tentang segala prestasi yang pernah diraih. Ngga salah sih kalau masa SMP ini dinamai masa-masa kejayaan. Jadi maafkan kalau paragraf ini sedikit menyombongkan diri hahaha. Bagaimana tidak? Berhasil masuk kelas yang orang lain bilang kelas unggulan, masuk tiga besar, jadi juara umum, ikut lomba ini itu dari mulai yang akademik sampai non-akademik dijajal juga –walaupun ngga pernah juara sih—yang penting pengalamannya deh ya. Walaupun gara-gara itu sempet jadi anak yang agak belagu dan songong yang segalanya harus serba perfect . Ulangan kudu dapet 100 dan gak mau kalah sama orang lain, tiap liat orang lain dapat nilai lebih gede selalu aja panaaaasssshhhhh. Pokoknya dulu bener-bener jadi anak yang menomorsatukan nilai banget deh, kerjaan nge...

Nostalgia Putih-Merah

Source: Google.com Rindu masa-masa berseragam putih-merah dijamanku! Kadang sedih jika melihat anak-anak SD jaman sekarang. Mungkin mereka tak pernah tahu bagaimana bahagianya aku dan teman-temanku ketika masih SD dulu. Ah, dulu kami bahkan belum mengenal barang canggih berupa telepon genggam seperti sekarang. Dalam pikiran kami, barang itu hanya orang dewasa yang boleh punya. Yeaah, dulu handphone mungkin memang tak sepenting sekarang, belum banyak orang yang punya tapi justru karena itu kami sebagai anak SD jadi lebih mengerti arti kebahagian sesungguhnya. Rindu jadi anak SD yang aktif bermain hahaha. Banyak sekali permainan yang sering kami lalukan. Mulai dari gobag, pecle, bekles, kasti, bebentengan, ucing sumput, boy-boyan, simseu dan masih banyak lagi. Ngomong-ngomong aku pake istilah mainan anak SD di daerahku ya, tapi supaya ga bingung biar aku jelasin dikit-dikit, deh. Gobag , permainan yang biasanya dilakukan oleh lima orang. Biasanya si musuh akan diam pada ga...

Kirani dan Bandung

Siang itu, di bawah teriknya matahari yang menghiasi Alun-Alun Kota Bandung aku melihatnya untuk pertama kali. Dia Kirani, gadis cantik yang tak pernah lupa menggantungkan kamera dileher jenjangnya itu berhasil menarik perhatianku. Lalu entah untuk alasan apa tiba-tiba detak jantungku seperti tak bekerja dengan normal ketika aku melihat gadis itu mendekat ke arahku. “Hai,” seolah tanpa ada rasa bersalah sudah membuat detak jantungku berdetak berlebihan dia menyapaku. “Oh, hai,” balasku gugup. “Boleh aku duduk di sini? Spotnya bagus untuk mengambil foto.” Aku hanya mengangguk menanggapinya, entahlah hanya itu rasanya yang bisa kulakukan. Sampai akhirnya dia pun sibuk membidik setiap objek yang ada di depannya dengan kameranya itu dan dia akan tersenyum puas setiap kali melihat hasil bidikannya. Lalu senyumnya itu pun berhasil mengalihkan duniaku. “Kau menyukai fotografi?” Entah keberanian dari mana tiba-tiba saja mulutku bergerak dan bertanya padanya. “Iya, kata...

Sepotong Kenangan di Paris Van Java

Akhirnya kakiku kembali menginjakkan kaki di kota penuh kenangan ini, deruan suara khas kereta api di Stasiun Bandung seolah menyambut kedatanganku. Bicara soal Bandung memang tak akan pernah ada habisnya bagiku. Tiga tahun bukanlah waktu yang sedikit untukku mengenal kota ini dan menciptakan segala bentuk kenangan di dalamnya. Masa-masa kuliah, masa-masa susah ketika uang bulanan habis, masa-masa berpetualang dengan teman-teman untuk keliling Bandung, sampai pada masa bahagia dan sakit hati karena cinta, di Bandung aku banyak mengalami berbagai hal. Berkunjung kembali ke kota ini tentu saja memunculkan kembali rasa rinduku pada setiap kenangan yang terukir. Orang yang paling ingin kutemui saat berkunjung kembali ke kota ini adalah Bapak Rajab, beliau adalah penjaga rumah kontrakanku selama tiga tahun kuliah di Bandung, beliau sangat hapal sekali tentang seluk beluk kota yang terkenal dengan julukan Paris Van Java ini. Aku bahkan sampai hapal bagaimana awal mula kota Bandung dis...